KAKAK ADIK BISNIS INDUSTRI RUMAHAN TEMBAKAU SINTETIS
POLISI UNGKAP BISNIS TEMBAKAU SINTETIS SUDAH BERJALAN 6 BULAN

By redaksi 29 Apr 2021, 21:28:54 WIB Hukum
KAKAK ADIK BISNIS INDUSTRI RUMAHAN TEMBAKAU SINTETIS

Keterangan Gambar : Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menanyai tersangka peracik tembakau sintetis Kamis (29/4/2021) .(foto istimewa)


Bogor, Jnews


Berbekal penangkapan salah seorang tersangka berinisial MRD di Tajur Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor beberapa waktu lalu, jajaran Satnarkoba Polresta Bogor Kota berhasil membongkar industri rumahan pembuat tembakau sintetis di wilayah Ciawi, Kabupaten Bogor. 

Dari kasus ini, polisi mengamankan tiga tersangka berinisial DR, MRD dan RS, dimana dua orang diantaranya merupakan kakak beradik.

Menurut Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, ketiga tersangka itu tertangkap atas pengakuan tersangka MRD yang lebih dahulu tertangkap.

"Terungkapnya berawal dari penggeledahan dan  ditemukan satu klip diduga sabu. Dari situ dikembangankan ke kontrakannya di Ciawi," kata Susatyo, Kamis (29/4/2021).

Dalam kontrakan tersebut, petugas mendapati tersangka DR sebagai pemesan barang. Tak hanya itu, terdapat juga 30 bungkus tembakau sintetis dan berbagai alat produksi diantaranya dua botol ethanol, dua botol glycero, alat pres hingga alat pemanas.

"Pengakuan MRD barang-barang itu milik kakaknya RS. Jadi antara MRD dan RS ini adik kakak," jelasnya.

Kepada polisi, mereka mengaku baru menjalankan bisnis pembuatan tembakau sintetis selama 6 bulan dengan mengedarkannya melalui media sosial Instagram. Satu bungkus tembakau sintetis buatannya dijual oleh tersangka seharga Rp 500 ribu.

Atas  perbuatannya, ketiga tersangka dikenakan Pasal 115 ayat (2) Subsider Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika Jo Permenkes RI Nomor 04 Tahun 2021 tentang perubahan penggolongan narkotika. Dengan ancaman paling singkat 6 tahun penjara dan paling lama 20 tahun penjara atau denda paling sedikit Rp 1 miliar dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. 

(r/an)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment